ASAL USUL DESA/KELURAHAN
Nama “ BULAGI” sesungguhnya berasal dari nama “ KAYUMBOL” yang berarti Kayu Putih atau Kayu yang berwarna Putih. Kayu jenis ini sangat langka dan sesungguhnya tidak terdapat di tempat itu. Tetapi secara tiba - tiba lansung tumbuh besar di tempat itu. Tidak di ketahui siapa yang menanamnya.
Konon, karena keanehan yang di miliki Pohon/Kayu tersebut,banyak orang - orang yang berdatangan untuk melihat Pohon/Kayu lebih dekat. Mereka mulai menetap di tempat itu dan mendirikan rumah/pondok sebagai tempat tinggal. Dan kemudian tempat itu telah menjadi perkampungan yang besar dan mereka memberi nama dengan sebutan kampung “Kayumbol” yang harus di pimpin oleh seorang kapitan ( Kepala Desa/Kampung ).
Pada masa pemerintahan Tomundo ( Raja ) Banggai “ Mandapar “, di adakan pertemuan di Banggai yang di hadiri oleh para Basalo ( Kapitan ), termasuk Kapitan Kayumbol. Adapun rombongan dari Kayumbol di Pimpin oleh Kapitan Aluman. Dalam pertemuan tersebut, Tomundo Banggai sempat bertanya kepada Kapitan Aluman: “ Bulaa ? “ ( yang berarti tempat yang mereka diami bernama apa ). Kapitan Aluman pun langsung menjawab pertanyaan itu, sehingga oleh Tomundo Banggai menyebut kembali kata “ Bulaa “ dengan menambahkan huruf “ I “ sehingga menjadi kata “ Bulaai “ dan menunjuk Kapitan Aluman sebagai Basalo Bulaai yang pertama.
Sejak saat itu, nama Kayumbol berganti menjadi “ Bulaai “.Setelah terjadi pergantian Kapitan Aluman, di gantikan oleh Hamado, barulah terjadi pengangkatan Kepala Desa Bulagi,kemudian habis masa jabatan Hamado di gantikan oleh Simun Yalani, kemudian masa jabatan selesai di gantikan oleh Majit Madiong.
Setelah kedatangan Bangsa Belanda ( kira - kira tahun 1908 ) dan karena pengaruh dialek penduduk setempat kata “ Bulaai “, berubah menjadi “ Bulagi “ dengan status Desa. Seiring perkembangan dan pertumbuhannya, pada tahun 1998 Desa Bulagi I berubah status menjadi Kelurahan Bulagi I.
Kelurahan Bulagi I adalah salah satu Kelurahan yang terletak di ibu Kota Kecamatan Bulagi dengan luas wilayah yaitu 1.308 Ha. Kelurahan Bulagi I terdiri dari 3 Lingkungan dan 6 RT yang merupakan Penghasil Rumput Laut serta Jambu Mente di Kecamatan Bulagi Kabupaten Banggai Kepulauan.
ADAT DAN BUDAYA
Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai - nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu kelompok atau daerah. Kebudayaan merupakan suatau hal yang turun secara turun temurun yang telah ada dalam masyarakat secara turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain sehingga perwujudanya merupakan hasil yang di ciptakan manusia sebagai mahluk yang berbudaya berupa perilaku, benda - benda yang bersifat nyata, pola - pola prilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain - lain.
Kembali pada tradisi Banggai pada umumnya dan Kelurahan Bulagi I pada khusnya,ada sanagat banyak dari tradisi yang melekat dalam masyarakat yang memang sangat menarik, musik yang di antaranya; batongan, kanjar, linbul dan lain sebagainya, juga ada tarian yang yang termasuk osulen, Balatindak, Ridan dan lain - lain, juga cerita Rakyat atau legenda yang sangat banyak yang di kenal dengan nama Banunut, lagu atau puisi yaitu Baode, Paupe.
Suatu gambaran Tradisi masyarakat khusnya Kelurahan Bulagi I ada penanaman sejenis Umbi yang memang satu - satunya di Dunia ini hanya terdapat dan berasal dari Banggai khusnya Kelurahan Bulagi I, sehinga di kenal dengan nama Ubi Banggai, ini akan memberikan suatu cerita tersendiri yang sangat manakjubkan, yang di mulai dari proses hingga selesai, akan banyak sisi – sisi kehidupan tradisi yang mamberikan gaya artistik yang sangat berharga.